Lavendel, si Ungu Ajaib Mediterania

Lavendel, si Ungu Ajaib Mediterania

Siapapun yang pernah tinggal di daerah berlahan gambut dan rawa tentu tidak asing dengan serangga bernama nyamuk. Keberadaan pasukan pengisap darah ini membuat kita tak segan melampiaskan berbagai aksi, agar terhindar dari pemandangan “tak bisa berdiam diri”.

Dengan dengung yang mudah tertangkap telinga, nyamuk merupakan musuh bebuyutan umat manusia. Populasinya berlipat-lipat dari jumlah penduduk dunia, tak terkecuali di negara maju sekalipun. Ada daerah-daerah yang tidak imun dari kekuasaan makhluk menyebalkan ini.

Nyamuk boleh saja merajalela, tetapi semesta pun memberikan kita proteksi yang luar biasa. Mari kuperkenalkan dengan resep leluhur di pelataran laut Mediterania yang sejak dulu memiliki satu perisai untuk melindungi diri dari kerumunan nyamuk.

Salah satu karya alam yang diberkahi kekuatan menangkis serangan tersebut adalah bunga lavendel.

Dengan meremas kuncup lavendel sebelum ia menjadi bunga, kemudian mengosokkannya di bagian tubuh yang terbuka, itu sudah bisa menjadi penolong utama ketika nyamuk merajalela. Sebab, minyak atsiri yang dikandung ilalang perdu ini segera mengeluarkan senyawa aktif yang dibenci nyamuk.

Lavendel, si biru ungu penebar harum yang dirindui, hidup berumpun-rumpun dan gampang tumbuh sendiri. Ia adalah tumbuhan emblematik di Provence – Prancis Selatan.

Bahkan, untuk menarik wisatawan, ada sebuah hari bernama Fete de Lavande alias pesta panen memotong tangkai lavendel.

Di ladang wangi itu, berton-ton genus rumput ajaib ini diekstraksi untuk diambil esensinya. Namun, untuk kualitas terbaik esensi, ia dieksekusi saat masih berbentuk seperti butiran padi.

Sejarah panjang lavendel telah dimulai sejak bangsa Mesir kuno memadukannya sebagai ritual pembalseman jenazah.

Lavendel sebenarnya disunting dari akar bahasa latin, lavare, yang artinya membersihkan atau menyegarkan.

Di bawah panas mentari, lavendel berbunga setelah sebulan ditinggal musim semi. Selain indah dipandang dan wangi, beragam keunggulan melekat pada tanaman herbal ini. Misalnya, sebagai aromaterapi, antibakteri, antiinflamasi, hingga antidepresi. Tumpukan khasiat yang dikandungnya membawanya sebagai primadona yang diekspor ke sana-sini.

Konon, ketika pecah Perang Dunia I, saat terik mentari terasa menyiksa, para serdadu menyelipkan tangkai bunga ini di topi mereka untuk mengurangi rasa nyeri di kepala.

Kemudian, oleh praktisi kedokteran, lavendel dikaji khasiatnya untuk meredakan peradangan, mengendurkan saraf, dan membantu pasien menenangkan diri.

Seiring perkembangan, khasiat lavendel memasuki pasar kuliner dalam bentuk pembuatan kue. Selain itu, teh lavendel juga menjadi tren terkini di kafe-kafe.

Satu lagi, karena kehadiran lavendel mengundang banyak lebah, oleh pengrajin madu, nama bunga ungu ini pun dijadikan label: madu lavendel. Bukan rahasia lagi, madu lavendel banyak diburu turis untuk dijadikan buah tangan, saat mereka berlibur ke Prancis Selatan.

Di bidang kosmetika, esensi lavendel dicampur ke dalam gel, sabun, bedak, pelembap, susu pembersih, juga persilangan minyak wangi. Lavendel menjadi komoditas yang menjanjikan sukses suatu transformasi.

Begitulah sekilas cerita lavendel dari ujung negeri berlumur cahaya. Semoga keharuman dan sifat baik tanaman ini menginspirasi kita untuk memelihara dan mempemanis pekarangan rumah kita. Ia serupa mukjizat alam bagi kesehatan, sekaligus sebagai teman pengusir penat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *