Eurovision: Sebuah Renungan

Eurovision: Sebuah Renungan

Eurovision adalah tayangan prestisius tentang kompetisi musik yang disiarkan atas kerja sama dengan Komite Radio dan Televisi Uni Eropa. Kontes tersebut disiarkan secara langsung dari negara yang tahun sebelumnya menjadi pemenang. Artinya, si penakluk mendapat jatah tuan rumah pada pesta penyelenggaraan berikutnya.

Tahun ini, ada 40 negara bersaing dan 27 di antaranya berhak tampil langsung di babak final, memperebutkan kursi terbaik, sekaligus berpeluang memperoleh tiket sebagai negara penjamu tahun depan.

Pada akhir acara, diadakan pemungutan suara langsung dari negara-negara yang ikut. Namun, negara yang mengirimkan pesertanya tidak boleh memilih kandidatnya sendiri. Negara yang ikut hanya boleh memberi nilai kepada negara lain dalam daftar hadir. Peraturan ini bertujuan untuk menghindari kecurangan.

Tanggal 23 Mei 2015, Eurovision baru saja menyelesaikan tayangannya yang keenam puluh. Di hadapan pemirsa dari belahan Eropa dan sekitarnya, panitia akhirnya mendaulat negara Swedia sebagai pemenang.

Aku tergelitik menulis acara tersebut setelah empat tahun lalu menyaksikan langgam Anggun, si pelantun yang mengharap salju turun di Sahara, mencoba membela negara Prancis.

Dengan penampilan superseksi nan glamor, juga reputasi internasional yang tidak diragukan, Mbak Anggun tidak mampu mendongkrak posisinya ke sepuluh besar dan harus berbesar hati menerima urutan ke-22 dari 26 peserta. Artinya nomor empat dari bawah. Sadis, ya?

Mengutip pepatah, kalau bukan karena angin bertiup, rumput takkan bergoyang. Bukan lantaran sang diva kurang performa, tetapi karena hasil akhir ditentukan oleh pemberian suara negara anggota.

Dari berita yang aku dengar, di balik hingar-bingar pemungutan suara, terjadi konspirasi antar negeri-negeri di balik tirai besi Rusia. Mereka saling memberi poin untuk negara sekawasan, sehingga rating mereka berimbang. Memaksa negara-negara yang berjauhan, tersingkir ke bawah.

Di kompetisi ini, terdapat sepuluh poin yang dibagikan oleh negara partisipan. Dan tahun ini, negara tuan rumah menduduki urutan terbawah, bahkan ‘nilai kasihan’ pun tidak mereka raih.

Negara ini, Austria, terkena efek dari tidak boleh memberi suara pada kontestan sendiri. Sementara, mengharap berkah dari konspirasi adalah sesuatu yang muskil.

Apakah hubungan bilateral Prancis dengan negara sekitar kurang ramah, sehingga poin yang diterima hanya sedikit lebih baik dari tuan rumah? Aku kurang paham. Yang jelas, warga Prancis terlihat gusar dengan posisi tiga terbawan itu. Banyak yang meminta supaya pemerintah berhenti berpartisipasi di ajang ini.

Pelajaran moral yang bisa dipetik dari sini adalah, baik-baiklah kepada tetanggamu. Sebab, ketika warung dan toko tutup, sedang persediaan garam tidak ada, maka di tempat tetanggalah terdapat cadangan cuma-cuma.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *